Tentang Pura Puseh Kangin
Hal yang menarik bahwa di Pura Puseh Kangin Desa Carangsari terdapat tinggalan arkeologi berupa nekara batu dengan fragmen arca yang duduk bersila di atasnya. Seperti yang telah diketahui bahwa nekara merupakan peninggalan dari jaman prasejarah tepatnya pada jaman perundagian dimana pada masa tersebut teknologi telah berkembang pesat terbukti dengan ditemukannya berbagai peralatan yang terbuat dari logam dalam bentuk yang sedernana. Nekara pada umumnya sampai saat ini terbuat dari bahan tembaga ataupun perunggu seperti nekara yang ditemukan di Pura Penataran Sasih Desa Pejeng Gianyar, berbentuk seperti dandang dengan kuping serta hiasan kedok muka. Pada jaman dahulu nekara difungsikan sebagal gendering perang atau sebagai sarana upacara yang dapat mendatangkan hujan (Sutaba, 1980: 23-24). Berbeda halnya dengan benda yang terdapat di Pura Puseh Kangin Desa Carangsari. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi depasar Nekara di Pura Puseh Kangin Carangsari diliahat dari prototipe dan karakteristik tinggalannya kemungkinan besar tinggalan ini bukan berasal dari jaman prasejarah, akan tetapi berasal dari jaman sejarah peradaban Hindu-Budha di Bali. Terbukti dengan adanya fragmen kaki arca dengan nekara sebagai lapiknya, kemungkinan nekara tersebut berasal dari kronologi abad 13-15 Masehi. Kemungkinan pada saat pembuatan tinggalan tersebut tradisi megalitik masih berkembang dengan baik sehingga dibuatkan arca perwujudan dengan nekara sebagai lapiknya. Tinggalan menarik lainnya yang ditemukan di Pura Puseh kangin Desa Carangsari adalah Lingga Tri Murti atau Tri Mukha Lingga. Pada umumnya lingga yang banyak ditemukan di bali adalah Lingga Bajralepa, Lingga Sempurna ataupun Lingga semu. Fungsi serta landasan filosofis dari lingga-lingga tersebut hampir sama yaitu sebagai sarana
List Pelinggih
Pura Puseh Kangin Desa Carang Sari ini telah mendapatkan beberapa kali penelitian arkeologi, sehingga peninggalan budayanya sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya. Pura ini terdiri dari tiga halaman sesuai dengan apa yang biasa dijumpai di daerah dataran yakni Halaman Luar (Jaba sisi) Halaman Tengah (Jaba Tengah) dan Halaman Dalam (Jeroan).
- Pelinggih Gedong Kembar
- Pelinggih Taman
- Pelinggih Arca/Panca Dewata
- Deretan Menhir
- Deretan Menhir
- Pelinggih Penyawangan Ratu Nyoman Sakti
- Pelinggih Penyawangan Puncak Mangu
- Pelinggih Penyawangan Puncak Tapsai
- Pelinggih Penyawangan Gunung Agung
- Bale
List Pelinggih
- Pelinggih Penyawangan Ulunsui
- Pelinggih Penyawangan Uluwatu
- Paruman Pelik
- Pelinggih Dewi Tapani
- Paweda Luhur
- Pelinggih Paruman
- Pararean Mangku
- Pelinggih Samuan Tiga
- Panggungan
- Pawedan Sekala
List Pelinggih
- Penyawangan Pinandita
- Gedong Simpen
- Pewaregan
- Pelinggih Bedugul
- Apit Lawang
- Apit Lawang
- Bale Pesandekan
Penemuan Arca



Nama Arca : Fragmen Bangunan
No. Inventaris : 1/14-03/BND/84
Bahan : Batu Padas
Warna : Abu Abu
Tempat : Utama Mandala



Nama Arca : Lumpang Batu
No. Inventaris : 1/14-03/BND/386
Bahan : Batu Padas
Warna : Abu Abu
Tempat : Utama Mandala



Nama Arca : Menhir
No. Inventaris : 1/14-03/BND/83
Bahan : Batu Padas
Warna : Abu Abu
Tempat : Utama Mandala
Skala Renovasi
Pura Puseh Kangin
Pura Puseh Kangin telah mengalami beberapa kali renovasi sebagai upaya pelestarian cagar budaya dan perawatan bangunan suci. Renovasi dilakukan untuk memperbaiki pelinggih dan bangunan pendukung yang mengalami kerusakan akibat faktor usia, cuaca, dan lingkungan, tanpa mengubah struktur utama, tata ruang, serta nilai kesakralan pura. Pelinggih-pelinggih yang ada juga telah direnovasi dengan tetap mempertahankan bentuk asli, fungsi sakral, serta nilai historisnya. Selain itu, renovasi bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan umat yang semakin berkembang, sehingga aktivitas keagamaan dapat berlangsung dengan lebih aman dan nyaman.
Apa yang dipertahankan?
Struktur Utama dan Tata Letak Kawasan Suci. Struktur utama pura beserta tata letak kawasan sucinya masih dipertahankan seperti sejak dahulu. Pembagian mandala (nista, madya, dan utama mandala) tetap dijaga sesuai dengan konsep tata ruang tradisional Bali. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kesakralan pura serta nilai filosofi dan warisan leluhur.
Dokumentasi Pura Puseh Kangin
- Semua
- Nista Mandala
- Madya Mandala
- Utama Mandala
Penggungan Catur
Penggungan Catur merupakan pelinggih untuk menghaturkan banten bebangkit sebagai sarana piodalan
Wantilan
Wantilan merupakan sebuah aula tempat berkumpulnya masyarakat untuk berbagai kegiatan.
Bale Gong
Bale Gong berada didepan pintu masuk menuju ke jaba tengah yang berfungsi sebagai tempat menabuh gong dan gambelan.
Penyawang Pinandita
Penyawang Pinandita merupakan tempat Pinandita untuk memulai persembahyangan . Pinandita juga sering disebut Pemangku.
Apit Lawang
Apit Lawang ini merupakan Pelinggih Kembar yang berada diantara pintu masuk dan keluar menuju ke jeroan.
Apit Lawang
Apit Lawang ini merupakan Pelinggih Kembar yang berada diantara pintu masuk dan keluar menuju ke jeroan.
Bale Pesandekan
Bale ini berfungsi untuk tempat peristirahatan bagi umat yang akan melakukan persembahyangan.
Pelinggih Gedong Kembar
Pelinggih ini berada di area jeroan. Didalam pelinggih ini terdapat Arca Suci Tri Murthi sebagai Simbol Ida Betari Uma dan Batara Siwa.
Gedong Simpen
Gedong Simpen adalah tempat suci Pura Pusering Jagat yang didalamnya terdapat pecahan – pecahan arca.
Fragmen Arca Duduk Diatas Neraca
Arca yang digambarkan duduk diatas nekara dengan sikap bersila.
Fragmen Primitif
Fragmen arca tanpa kepala digambarkan dalam sikap berdiri di atas lapik



































